This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

ad

Sabtu, 23 April 2016

Mengapa Ayat Qur'an Bertentangan?



Mengapa Ayat Qur'an Bertentangan?

Pertanyaan:
Ada ayat Qur'an bertentangan. Saya melihat dalam surah al-An'aam 164 yang artinya'"Da« seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Ayat tersebut bertentangan dengan surah an-Nahl 25 yang bunyinya, "Ucapan mereka menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah amat buruk apa (dosa) yang mereka pikul itu."

Jawab:
Berikut penjelasan Ust. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi (dalam Anda Bertanya Islam Mejawab)  menerangkan bahwa;
Arti ayat yang pertama yaitu tidak ada tuntutan dosa yang dilakukan oleh orang lain atau tidak ada tuntutan dosa lewat perantara.
Sedangkan ayat yang kedua maksudnya, apabila seseorang disesatkan dan orang tersebut tidak tahu kalau ia sesat atau disesatkan, orang yang menyesatkan itulah yang menanggung dosanya.
Sasaran dari ayat itu memang berbeda, bukan ayatnya yang bertentangan. Ayat yang pertama pembebanan dosa karena dirinya sesat, sedangkan ayat kedua dosa karena menyesatkan orang lain.


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

Apa Bedanya Syariat dengan Hakikat?



Apa Bedanya Syariat dengan Hakikat?

Pertanyaan:
Apakah bedanya syariat dengan hakikat?

Jawab:
Selanjutnya penjelasan Ust. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi (dalam Anda Bertanya Islam Mejawab)  menerangkan bahwa;
Anda melaksanakan syariat, berarti Anda mengerjakan perintah Allah yang wajib tanpa alasan apa pun untuk meninggalkannya. Misalnya soal shalat atau tiba waktu shalat. Anda bangun kemudian wudhu dan kemudian shalat, berarti Anda telah mengamalkan syariat dengan tata cara shalat yang benar.
Masalahnya adalah apakah dalam mengerjakan itu Anda benar-benar hanya shalat karena Allah dan untuk Allah, atau hanya riya? (pura-pura supaya orang melihat Anda shalat). Itulah yang dimaksud hakikat yaitu melaksanakan syariat dengan hukum dan tujuan yang dikehendaki Allah dalam mengamalkan syariat secara mendasar.
Jadi, syariat ialah melaksanakan perintah wajib dengan segala bentuknya, sedangkan hakikat ialah melaksanakan apa yang disyariatkan itu secara inti dan pokoknya.
Hakikat ialah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Allah dapat menilai apakah manusia dalam melaksanakan syariat itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau asalasalan saja. Hanya sekadar selesai mengerjakan tugas.
Ada yang berpendapat,'"Barangsiapa yang mengamalkan syariat tetapi tidak mengamalkan hakikat, sebenarnya dia munafik."
Contohnya kejadian pada zaman Rasulullah. Ketika itu orang-orang munafik ikut shalat bersama Rasulullah, bahkan menempati barisan pertama. Dari segi syariat mereka mengamalkan, tetapi dari hakikat lain lagi penilaiannya.
Bisa dimisalkan juga dari kejadian sehari-hari pada sebuah kantor. Sang direktur yang rajin bekerja memerintahkan kepada  bawahannya supaya dalam bekerja harus disiplin waktu, melarang makan dan minum dalam bekerja, dan memberi sanksi
bagi yang melanggar.
Peraturan-peraturan itu ditaati oleh pegawainya, tetapi



apakah si pegawai itu dalam bekerja sesuai dengan yang dituntut oleh atasannya? Tegasnya, syariat ialah bentuk ibadah, sedang hakikat adalah maksud yang dihadapkan oleh yang menetapkan syariat.
Orang yang hanya mengamalkan syariat saja tidak terdapat cahaya jernih pada wajahnya. Tetapi orang yang mengamalkan hakikat akan terlihat pada wajahnya, kejernihan, cahaya, dan sinar yang cerah (nur).


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

Kenikmatan yang Datang dan Hilang



Kenikmatan yang Datang dan Hilang

Pertanyaan:
Allah swt. menyuruh kita agar tidak bersedih jika kehilangan kenikmatan juga tidak berlebih kegembiraan jika merasakan, kenikmatan.
Firman-Nya,
"Supaya kamujangan berduka cita terhadap apayang lupu tdari kamu, dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (al-Hadiid: 23)

Tetapi, kebanyakan manusia susah memegang ayat itu, mengapa?

Jawab:
Selanjutnya penjelasan Ust. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi (dalam Anda Bertanya Islam Mejawab)  menerangkan bahwa;
Kenikmatan datang kepada Anda, bisa sebagai ujian, yaitu kenikmatan itu malah merugikan Anda. Ini terjadi mungkin karena Anda tidak melaksanakan hak Allah.
 Jika Anda mengalami seperti itu, lebih baik Anda menyibukkan diri kepada hal-hal yang bermanfaat daripada Anda hanya termenung sedih memikirkannya. Buat apa mencari pelarian dengan mengerjakan sesuatu yang tidak baik. Pada hal, waktu kita bisa dipergunakan untuk mempersiapkan kegiatan baru sebagai pengganti dari kenikmatan yang hilang itu. Janganlah Anda berpikir bahwa hilangnya kenikmatan adalah akibat dari suatu peristiwa yang Anda tidak ketahui sumbernya dan karena Anda tidak mampu menolak kedatangannya.
Sebaiknya, jika Anda mendapat kenikmatan, Anda tetap menjalankan kewajiban dengan melaksanakan hak-hak Allah dan jika Anda kehilangan kenikmatan, anggaplah bahwa itu adalah sesuatu yang sudah lewat, kemudian Anda mencari sumbernya dan Anda mencari pencegahnya.


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

Jumat, 22 April 2016

Download Novel Berakhir di Malaka PDF

Saat puing-puing itu pecah..
Saat suara penyeru-Nya diperdengarkan
Ketahuilah bahwa aku selalu menyebut namamu dalam do’aku
Dan rasa yang terpendam di hati..
Jiwa yang lama menanti
Akan sirna..
Karena cinta telah tumbuh di hati
Dan bukan untuk sekedar dihayati
Tapi di resapi..
Tak usah resah, tak usah gundah..
Karena di batas waktuku nanti..
‘Kan kujemput dirimu menjadi bedadariku..
Biar pun lama..
Namun tetaplah menanti…
----------------------------
         Sebagai seorang wanita, apa jadinya saat seorang lelaki yang kamu sukai secara tidak langsung memberikan harapan kepadamu bahwa ia akan kembali suatu saat untuk melamarmu. Dan kamu pun menanti.. Menanti.. Dan menanti hingga bertahun lamanya. Beberapa lelaki datang untuk melamarmu namun kamu telah menutup pintu hatimu karena anggapanmu, telah ada yang mengisi kekosongan hatimu itu. Namun.. Setelah lama menanti, kamu mendengar kabar bahwa lelaki yang kamu nantikan telah menikah bersama wanita lain. Dan dia bahagia.. Apa yang kamu rasakan saat itu?
         Dan sebagai seorang isteri, apa yang kamu rasakan dan apa yang akan kamu lakukan saat tahu bahwa sebelum menikahi dirimu, suamimu pernah berjanji untuk menikahi wanita lain. Dan suamimu tidak dapat menepati janjinya tersebut karena dia telah memilih dirimu untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan kamu mendengar bahwa wanita itu masih menanti suamimu dan terus mengharapkan kedatangan suamimu untuk menepati janjinya. Ia menjadi murung dan sering sakit-sakitan karena telah menaruh harapan pada suamimu namun suamimu tak kunjung jua menjemputnya. Sebagai seorang wanita kamu pasti bisa merasakan betapa sakitnya di khianati oleh seorang lelaki.

        Bagaimana sikap dirimu atas kenyataan ini?

Bagaimana kamu mempertahankan rumah tangga yang baru saja dibina terhadap berbagai problematika yang muncul?

         Baca kisah selengkapnya dalam novel:

                                      ^ Berakhir Di Malaka​ ^

         Sebuah kisah tentang seseorang yang merasa telah di khianati..
         Tentang janji yang tak di tepati..
         Dan lama menanti…
         “Suatu hal yang paling menyedihkan dalam hidup ini adalah ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu sayangi dan memberi harapan padamu bahwasanya ia akan menikahimu. Lalu dia pergi dan tak pernah kembali. Sementara kamu terus menanti, menanti, dan menanti.. Namun ternyata penantianmu hanyalah untuk sebuah kesia-siaan. Ia telah menikah bersama orang lain.” Ucap Dinda Khumayrah dan raut wajah Puteri terlihat heran.
       “Suamimu pernah mengirimkan sebuah puisi yang berisikan harapan ingin melamarku.”
        "Jangan biarkan cinta membutakan kita ya ukhti.. Allah Maha Mengetahui segala apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ia tidak akan memberikan segala apa yang kita minta namun ia akan berikan yang kita butuhkan. Jodoh, rizki dan maut itu sudah tertulis di Lauful Mahfudz. La tahzan Ukhti. Aku menikah dengan Ridho sesungguhnya tiada cinta di hati kami berdua. Namun jika namanya dan namaku yang tertulis di Lauhul Mahfudz, maka Allah akan menumbuhkan rasa cinta di antara kami berdua.” Ucap Puteri. Dan air mata membasahi kedua pipinya.
       “Jika suatu saat ada lelaki yang datang melamarmu, terimalah.. Mungkin dialah yang akan menjadi pelindung bagimu dan penghapus resah dan gundahmu.” 
-------------------------------------------
Meski lidah telah berkata untuk jangan..
Meski hati mencoba tegar mengikhlaskan..
Meski fikir mencoba tak mengarahkan..
Namun ketika rasa itu menghampiri, aku lemah tak berdaya..
Ada rasa yang sulit kutepikan..
Ada sesuatu yang tidak dapat ku dustakan..
Ya Allah.. Aku jatuh cinta...
Tapi cinta telah menjadikanku budak tak berhamba..
Ya Robbi.. Aku jatuh cinta..
Tapi cinta telah membuatku buta sehingga tak dapat melihat besarnya cinta-Mu..
Ya Mujibasa’ilin.. Aku jatuh cinta..
Tapi cinta telah membuatku terlena..
Wahai Robbku yang menguasai hati..
Palingkanlah dia dari ingatanku
Hapuslah dia dari fikirku..
Aku terlalu mencintainya dan telah terjerat karenanya
Dan aku tak tahu kenapa..
Ya Ilahi..
Tanpa kasih-Mu
Sesungguhnya aku tiada berdaya..
Tanpa rahmat-Mu..
Aku Hina..
---------------------------------------------------

Dapatkan kisah selengkapnya dalam novel “Berakhir Di Malaka” Karya Aimin Embisa​ atau lebih dikenal dengan nama pena Imints Fasta

Insya Allah novel ini sarat akan hikmah dan pembelajaran tentang bagaimana menjaga hubungan keluarga yang baru dibina atas berbagai problematika yang muncul.
Sebuah novel yang sederhana namun insya Allah mencerahkan..

Untuk download PDF bisa klik disini
 atau klik gambar ini


Harganya Rp. 47.000 (Belum termasuk ongkir) di jual online dari Jogjakarta
Informasi dan pemesanan silahkan hubungi Team Fastabiq Media​ dengan SMS ke 081578831200,
 Dengan menyertakan

a. Nama Lengkap:
b. Alamat Lengkap:
c. Kode Pos:
d. Nama rekening pemesan (nama yg neransfer duit agar kami bisa menyocokkan)
e. Judul Buku: BDM (untuk Berakhir Di Malaka) / CJ (untuk Cermin Jiwa​) 
f. Jumlah buku yang dipesan:

untuk pembelian langsung di Jogja @Masjid kampus UGM
Untuk pembeli online di Kawasan Pulau Jawa Rp 60.000 sudah termasuk ongkir. Untuk kawasan luar pulau jawa Rp. 65.000 sudah termasuk ongkir.
Terimakasih..
www.fastabiq.com

Sabtu, 16 April 2016

Apakah Manusia Dapat Menciptakan Amal Perbuatannya Sendiri



Apakah Manusia Dapat Menciptakan Amal Perbuatannya Sendiri

Pertanyaan-.
Para filsuf berpendapat bahwa manusia itu sebagai pencipta amal perbuatannya sendiri. Pendapat semacam ini sama dengan kaum Muktazilah. Alasannya bahwa hal itu sebagai bukti akan keadilan Allah. Manusia mendapat pahala atau siksa adalah didasari perbuatannya sendiri. Apakah pendapat itu benar?

Jawab:
Dipertimbangkan secara akal saja pendapat seperti itu tidak benar. Mari kita buktikan. Arti dari perbuatan (fiil) yaitu pengarahan kekuatan untuk melahirkan suatu kejadian yang sebelumnya tidak ada. Lalu, apa-apa saja yang diperlukan untuk melahirkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada?
Islam mengajarkan kepada kita bahwa untuk mewujudkan amal perbuatan diperlukan tujuh unsur sebagai syaratnya
1.      kekuatan (tenaga);
2.      akal yang merencanakan;
3.      pengarahan tenaga;
4.      materi amal perbuatannya;
5.      waktu;
6.      tempat;
7.      alat-alat
Apabila ada yang berpendapat bahwa untuk menciptakan amal perbuatan adalah dari manusia sendiri. Coba tolong sebutkan, mana dari tujuh tersebut di atas yang bisa dijadikan lAndasan.
Tidak mungkin manusia bisa mencipta akal atau tenaga atau sasarannya. Misalnya, Anda hendak berdiri, timbul hasrat dalam hati untuk berdiri. Anggota tubuh yang mana yang dapat melakukan tugas sampai Anda bisa berdiri? Pasti Anda tidak tahu! Anda hanya tahu bahwa Anda sudah berdiri, selesai! Begitu pula bila ingin menggerakkan tangan, kepala atau lainnya coba kita kaji lebih dalam. Misalnya Allah mengambil fungsi akal Anda, apakah mungkin Anda dapat merencanakan amal perbuatan? Tubuh Anda lumpuh, tentu Anda tidak mampu menggerakkan badan.
Dari contoh-contoh itu jelas, bahwa unsurLunsur perbuatan bukan dari manusia. Manusia tidak akan mampu menguasainya. Sebatas berpikir, manusia bisa menimbang atau memilih dua alternatif; memilih berbuat atau tidak, memilih berdiri atau duduk. Itu saja!


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

Fitrah Manusia Menolak Syirik



Fitrah Manusia Menolak Syirik

Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan fitrah yang sehat akan menolak syirik?

Jawab:
Allah berfirman,

"Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu hagi Allah, padahal kamu mengetahui." (al-Baqarah: 22)

Manusia tahu bahwa sekutu-sekutu itu tidak bisa menciptakan makhluk apa pun. Tidak bisa menghamparkan bumi dan membangun langit, tidak bisa menurunkan hujan, tapi kenapa manusia masih saja menyekutukan-Nya? Sebabnya ialah kaum musyrikin minta bebas sebebas-bebasnya. Mereka tidak mau diikat (diberi perintah atau larangan). Mereka menganggap bahwa adanya ikatan hanya membatasi saja. Padahal Allah memberikan batasan itu hanya karena rasa cinta dan kasih sayang-Nya. Allah membatasi Anda dengan peraturan-peraturan dimaksudkan untuk melindungi Anda dari kesewenangan-wenangan berjuta-juta manusia kepada Anda. Orang-orang yang beriman tahu hikmah dari batasan itu. Adanya batasanbatasan tersebut justru menimbulkan rasa cinta kepada Allah. Tetapi sebaliknya, orang musyrikin tetap saja akan menyamakan kesukaannya kepada Allah dengan kesukaan kepada sekutu- sekutunya.

Firman Allah,

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang

beriman amat sangat cintanya kepada Allah." (al-Baqarah: 165)

Orang-orang musyrik tahu persis bahwa sekutu-sekutunya tidak mampu menghilangkan kemudharatan. Lalu mereka memohon kepada Tuhan yang sebenarnya. Tapi setelah hilang kemudharatan itu, ia kembali kepada sekutu-sekutunya lagi.

Firrnan-Nya,

"Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada- Nya. Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah ia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu dan dia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, 'Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu, karena sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka. "(az-Zumar: 8)


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

Hunafa (Orang-Orang yang Lurus)


Hunafa (Orang-Orang yang Lurus)

Pertanyaan:
Hunafa adalah kelompok orang pada zaman jahiliah yang menolak perilaku dan peribadatan jahiliah. Bagaimana ceritanya?

Jawab:
Hunafa ialah orang-orang saleh yang tidak mau mengikuti segala perilaku kotor dan tata cara peribadatan jahiliah yang mereka anggap tidak masuk akal. Mereka berusaha mencari kebenaran.

Mereka berkata, "Kami tidak sependapat dengan cara-cara jahiliah, menyembah dan memuja berhala. Berhala-berhala itu adalah buatannya sendiri. Jika pecah ditambal, jika patah disambung, lalu disembah lagi. Sungguh tidak masuk akal. Kami sangat prihatin akan kejadian-kejadian itu.

Keprihatinannya membuat mereka pergi mengembara ke negara lain untuk mencari agama yang benar. Sebagian lagi tetap bertahan dan tidak ikut-ikutan dengan ajaran baru yang dapat menghilangkan kekalutan pikiran.

Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

add